Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

037. SEJARAH PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD S.A.W.


Perayaan maulid Nabi Muhammad S.A.W., pertama kali dirintis oleh Shalahuddin al-Ayyubi, sultan Mesir dari Bani Ayyub yang memerintah pada 570-590 Hijriah atau 1174-1193 Masehi dengan daerah kekuasaan yang membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Ketika itu dunia Islam tengah terlibat dalam perang salib berhadapan dengan bangsa Eropa, terutama bangsa Perancis, Jerman, dan Inggris. Pada 1099, pasukan gabungan eropa berhasil merebut Yerusalem dengan mengubah Masjid Al-Aqsha menjadi gereja. Ketika itu dunia Islam seperti kehilangan semangat jihad dan ukhuwah, sebab secara politis terpecah belah dalam beberapa kerajaan dan kesultanan meskipun khalifahnya satu, yaitu Khalifah Bani Abbas di Baghdad, Iraq.
Melihat suasana lesu itu, Shalahuddin berusaha untuk membangkitkan semangat jihad kaum muslimin dengan menggelar Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awwal. Menurutnya, semangat jihad itu harus dibangkitkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Rasulullah SAW. Namun gagasan itu sebenarnya bukan usulan dia, tetapi usulan dari saudara iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, yaitu seorang atabeg (bupati) di Irbil, Suriah Utara.

Awalnya, gagasan Shalahuddin ditentang para ulama, sebab sejak zaman Nabi perayaan maulid itu tidak ada. Apalagi, di dalam agama islam hari raya resmi cuma ada 2 yaitu, Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Namun Shalahuddin menegaskan bahwa perayaan Maulid hanyalah semarak syiar Islam, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dikategorikan sebagai bid’ah. Kebetulan Khlaifah An Nashir di Baghdad pun menyetujuinya.
Maka, di tengah musim haji pada 579 Hijriah atau 1183 Masehi, shalahuddin mengimbau seluruh jamaah hajji agar setiap tahun merayakan maulid Nabi di kampong halaman masing-masing. Salah satu kegiatan yang dalam maulid yang pertama kali digelar oleh Shalahuddin pada 580 H/1184 M adalah sayembara menulis riwayat Nabi yang diikuti oleh sejumlah ulama dan sasterawan.
Setelah diseleksi, pemenang pertamanya dalahSyaikh Ja’far Al-Barzanji-yang menulis riwayat Rasulullah SAW dan keluhuran akhlaknya dalam bentuk syair yang panjang, yaitu Maulid Barzanji.
Ternyata, peringatan Maulid Nabi yang digagas oleh Shalahuddin al-Ayyubi mampu menggelorakan semangat jihad kaum muslim dalam menghadapi serangan agresi Barat dalam Perang salib. Shalahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga Yerusalem berhasil direbut pada 583 H atau 1187 M.
Pada zaman sekarang, kebanyakan muslim di Negara-negara Islam merayakan Maulid Nabi, diantaranya: Mesir, Syria, Lebanon, Yordania, Palestina, Iraq, Kuwait, Uni Emirat Arab (tidak secra resmi karena mereka menyambut secara sembunyi-sembunyi di rumah masing-masing), Sudan, Yaman, Libya, Tunisia, Algeria, Maroko, Mauritania, Djibouti, Somalia, Turki, Pakistan, India, Sri Lanka, Iran, Afghanistan, Azerbaidjan, Uzbekistan, Turkistan, Bosnia, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan kebanyakan Negara islam yang lain. Di kebanyakan Negara Arab, Maulidurrasul Saw merupakan hari cuti umum.
Oleh karena itu, sangatlah pantas bagi kita untuk selalu memperingati kelahiran beliau sebagai bentuk syukur dan terima kasih yang dalam kepada Allah SWT atas karunia-Nya yang agung dengan lahirnya Rasulullah SAW.”man ahabbani fahuwwa ma’i fil-jannah” (al-hadits aw kama qala).

034. MA'SHIAT... (Oleh: Maulana Blepetan Al-Tampanie)


Suatu hari seorang lelaki menemui Ibrohim bin Adhom.
Dia berkata, ‘Wahai Aba Ishak! Saya selalu melakukan maksiat,
tolong berikan aku nasihat’.
Ibrohim berkata, ‘Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya,
maka kamu boleh teruskan melakukan maksiat.’
1. Jika kamu maksiat kepada Alloh, jangan makan rezekiNya.”
Lelaki itu seraya berkata, ‘Aku mau makan dari mana?
Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Alloh?
”Ya,” tegas Ibrohim bin Adhom.
”Kalau kamu sudah memahaminya, masih pantaskah memakan rezekinya,
sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya? ”
2. ”Yang kedua,” kata Ibrohim, ”kalau mau bermaksiat, jangan tinggal dibumi-Nya!
Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati.
Ibrohim kembali berkata kepadanya, ”Wahai Abdulloh, pikirkanlah,
apakah kau layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya,
sementara kamu melanggar segala larangan-Nya? ”
”Ya, Anda benar,” kata lelaki itu.
3. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga.
Ibrohim menjawab,”Kalau kamu masih mau bermaksiat,
carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!”
Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, ”Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa?
Mana mungkin Alloh tidak melihat kita?”
”Nah, kalau memang yakin demikian,
apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?”  kata Ibrohim.
Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.
4. Ibrohim melanjutkan, ”Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu,
katakanlah kepadanya, ‘Mundurkan kematianku dulu.
Aku masih mau bertobat dan melakukan amal sholeh’.”
Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar,
”Wahai Ibrohim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku? ”
”Wahai Abdulloh, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda
dan mengundurkan datangnya kematianmu,
lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Alloh?”
”Baiklah, apa syarat yang kelima?”
5. Ibrohim pun menjawab, ”Wahai Abdulloh kalau malaikat Zabaniyah
datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti,
jangan engkau mau ikut bersamanya.’ ‘
Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar.
Dia berkata, ”Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan
aku menolak kehendaknya. ”
Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrohim.
Air matanya bercucuran. ”Mulai saat ini aku bertobat kepada Alloh,” katanya sambil terisak.

033. Memiliki aset 3 Milyar, buah keyakinan yang besar


( Sumber: TQN Centre Jakarta )

Tengku (ustadz) Zulfan. Itulah nama panggilan wakil talqin TQN Suryalaya asal Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ini. Nama lengkap beliau adalah Drs. Muhammad Sulfanwandi Hasan, MA. Beliau dalah dosen di Unsyiah (Universitas Syah Kuala) dan IAIN Ar Raniry, Aceh.

Sejarah beliau masuk ke TQN Suryalaya adalah saat terjadi tsunami Desember 2004. Pertengahan bulan Januari 2005 Ust. Wahfiudin membentuk Tim “Suryalaya Peduli Aceh” dan terjun menjadi relawan dalam musibah yang menelan korban hampir 300 ribu orang. Bergabung dalam tim tersebut ikhwan TQN dari beberapa wilayah antara lain Medan, Sukabumi, Banten, Surabaya, Bekasi, dan Jakarta. Total Tim berjumlah 30 orang.

Merasa kurang amunisi, ustadz Wahfiudin mendatangkan Ajengan Jejen ke Aceh. Di Aceh kedua wakil talqin tersebut bertemu dengan Tengku Zulfan. Tengku Zulfan dengan senang hati bersedia bekerja sama dengan tim “Suryalaya Peduli Aceh”. Pesantrennya pun menjadi pusat kegiatan tim relawan Suryalaya. Bukan hanya bantuan logistik, Pelatihan-pelatihan pun diadakan di pondok pesantren beliau yang bernama Pondok Pesantren (Dayah) Raudhatul Qur’an, Desa Tungkob, Kec. Darussalam, Kab Aceh Besar.

Saat pelatihan itulah Ajengan Jejen menyampaikan talqin dzikir dari Wali Mursyid kepada para peserta pelatihan termasuk Tengku Zulfan. Sejak saat itu dzikir TQN adalah dzikir resmi di ponpes tersebut dengan restu pimpinan pesantren kelahiran tahun 1959 itu.

Menyebarkan TQN di Dayah Raudhatul Qur’an bukanlah tanpa tantangan. Suatu saat Ajengan Jejen memanggil santri beliau yang menjadi relawan (kalau tidak salah Zahid Hakiki). Zahid dengan semangat khidmahnya berlari menghampiri ajengan Jejen. Tengku zulfan sekonyong konyong membentak Zahid. Beliau berkata, “Hey!!! disini jangan berlari!!! Kalau kamu berlari, TNI menganggap kamu GAM. Sedangkan GAM menganggap kamu penyusup dari TNI. Kamu bisa ditembak mereka” ternyata desa beliau dikelilingi TNI maupun GAM. 

Berda’wah di Tungkob, taruhannya adalah nyawa. Tengku Zulfan siap pasang badan kalau ada pihak yang menyerang Ust. Wahfiudin dan Ajengan Jejen. Alhamdu Lillah tidak terjadi apa-apa pada mereka. Karena tengku Zulfan adalah seorang ulama yang benar-benar mengayomi masyarakat sekitar. Sehingga beliau pun dilindungi masyarakat.

Sepulang dari Aceh, Ajengan Jejen dan Ustadz Wahfiudin mengajak Tengku Zulfan dan Tengku Hasan Muda (Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah dengan ribuan murid) ke Ponpes Suryalaya. Di Suryalaya ternyata kedua ulama tersebut diangkat menjadi Wakil Talqin oleh Pangersa Abah.

Tanggal 29 Maret sampai 1 April Ustadz Wahfiudin, Ibu Rachmajanti (istri Ust. Wahfiudin), Asep Haerul Gani dan penulis berangkat ke Aceh dalam rangka “Pelatihan Pendalaman Tasawuf”. Dalam perjalanan menuju lokasi, Tengku Zulfan menjelaskan dengan merendah: “Mohon maaf, lokasi training kita di tengah hutan”. Namun Sesampai di lokasi kami terkaget-kaget. Karena bangunan-bangunan yang pada tahun 2005 kami saksikan sendiri terbuat serba dari kayu dan berbentuk rumah panggung, kini sudah berubah total menjadi bangunan yang mewah.

Yang membuat mata saya terbelalak dan tidak memindahkan pandangan adalah gambar Latifah 2 buah dengan ukuran sangat besar. Kira-kira besarnya 1,5 mtr x 1 mtr. Gambar tersebut dipajang dengan bangganya. Saya membatin, “inilah bukti keyakinan yang begitu besar”.

Dalam sambutan Tengku Zulfan kepada peserta pelatihan pendalaman tasawuf yang terdiri dari para tengku (ustadz atau Kyai) dari beberapa pesantren, beliau mengemukakan bahwa, Dengan dzikir, bangunan reot berubah menjadi bangunan seharga 3 millyar, semua itu berkah dzikir yang tersambung melalui Wali Mursyid”.

Berkah keyakinan dalam Dzikir

Satu hal komentar ust. Wahfiudin terhadap tengku Zulfan. Beliau memiliki keyakinan yang luar biasa besar kepada pangersa Abah sebagai Wali Mursyid. 

Setiap malam Jumat di masjid tersebut diadakan dzikir khatam. Pada tanggal 31 Maret kami menyaksikan bangunan masjid 3 lantai itu dipenuhi jamaah. Bahkan tangga masjid pun ikut menjadi tempat bagi jamaah dzikir, lk 1.000 jamaah memenuhi masjid tersebut. Bahkan tengku Zulfan menambahkan, kalau bulan Sya’ban dan Rajab, jamaah bisa mencapai 3.000 orang. Subhanallah.

Lagi-lagi penulis membatin, “Seorang Tengku Zulfan yang tinggal di tempat yang jauh dari Suryalaya, berkunjung ke Suryalaya pun bisa dihitung dengan jari. Buku-buku yang terbatas, pembinaan hanya sekedarnya dari ikhwan senior, namun bisa menyedot 3.000 orang (khusus di Aceh Besar) untuk menjadi murid pangersa Abah. Alangkah kuat daya spiritual pangersa Abah. Subhanallah”.

Kini, selain mengasuh pondok pesantren dan menjadi dosen, beliau juga menekuni berbagai usaha sebagai penunjang da’wahnya. Semoga Allah limpahkan keistiqamahan dan keikhlasan kepada beliau dan kita semua. Amin.

English French German Spain Russian Japanese Arabic Chinese Simplified
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Backup Data Dokumen Pemuda - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger